Selasa, 22 Februari 2011

Perkembangan Islam di Dunia

Perkembangan Islam di Benua Australia

Islam di Papua Nugini   

Islam di Papua Nugini adalah agama minoritas; departemen negara AS memperkirakan bahwa ada sekitar 2.000 penduduk Muslim di negara itu.
Sejarah
Orang-orang yang saat ini Papua Nugini dan Papua Barat berdagang dengan Cina dan kerajaan malay, yang terakhir yang beragama Islam, dimulai pada abad ke-16. Pada tahun 1988, umat Islam di Papua Nugini mendirikan pusat Islam pertama, dengan bantuan dari Malaysia berbasis organisasi Islam dan Kementerian urusan Islam Arab Saudi. Pada tahun 1996, tiga pusat Islam didirikan, dengan bantuan dari Liga Muslim Dunia. Sekarang ada tujuh pusat-pusat Islam di negara ini. Masjid pertama yang dibangun di Port Moresby, dengan kapasitas untuk menyimpan hingga 1.500 jamaah.
Islam masa kini di Papua Nugini
Saat ini, ada sekitar 4.000 Muslim di negeri ini, dengan banyak memeluk kepercayaan ini dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam beberapa tahun terakhir, pejuang dari milisi Islam Laskar Jihad muncul di negara tetangga Papua sepanjang perbatasan bersama.
Di Papua Nugini, gerakan-gerakan misionaris Islam baru mulai berkembang. Ada kantong-kantong Muslim di sekitar Port Moresby, di Baimuru, Daru, Marchall Lagoon, yang Musa Valley dan di pulau New Britain dan New Irlandia. Itu adalah di dataran tinggi bahwa Islam mengalami pertumbuhan yang paling pesat.

Perkembangan Islam di Benua Asia

Islam di Thailand

Dakwah islam senantiasa di seluruh penjuru dunia. Islam adalah agama yang tidak mengenal batas dan sekat-sekat nasionalisme. Pun di sebuah negeri yang mayoritas penduduknya bukanlah pemeluk agama islam, Thailand.

Thailand dikenal sebagai negara yang pandai menjual potensi pariwisata sekaligus sebagai salah satau negara agraris yang cukup maju di Asia Tenggara. Mayoritas penduduk Thailand adalah bangsa Siam, Tionghoa dan sebagian kecil bangsa Melayu. Jumlah kaum muslimih di Thailand memang tidak lebih dari 10% dari total 65 juta penduduk, namun islam menjadi agama mayoritas kedua setelah Budha. Penduduk muslim Thailand sebagian besar berdomisili di bagian selatan Thailand, seperti di propinsi Pha Nga, Songkhla, Narathiwat dan sekitarnya yang dalam sejarahnya adalah bagian dari Daulah Islamiyyah Pattani. Kultur melayu sangat terasa di daerah selatan Thailand, khususnya daerah teluk Andaman dan beberapa daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Bahkan beberapa nama daerag berasal dari bahasa Melayu, seperti Phuket yang berasal dari kata bukit dan Trang yang berasal dari kata terang.

Islam masuk ke Thailand sejak pertengahan abad ke-19. Proses masuknya islam di Thailand dimulai sejak kerajaan Siam mengakuisi kerajaan Pattani Raya (atau lebih dikenal oleh penduduk muslim Thai sebagai Pattani Darussalam). Pattani berasal dari  kata Al Fattani yang berarti kebijaksanaan atau cerdik karena di tempat itulah banyak lahir ulama dan cendekiawan muslim terkenal. Berbagai golongan masyarakat dari tanah Jawa banyak pula  yang menjadi pengajar Al Qur’an dan kitab-kitab islam berbahasa Arab Jawi. Beberapa kitab Arab Jawi sampai saat ini masih diajarkan di beberapa sekolah muslim dan pesantren di Thailand Selatan.

Perkembangan  islam di Thailand semakin  pesat saat beberapa pekerja muslim dari Malaysia dan Indonesia masuk ke Thailand pada akhir abad ke-19. Saat itu mereka membantu kerajaan Thailand membangun  beberapa kanal dan system perairan di Krung Theyp Mahanakhon (sekarang dikenal sebagai Propinsi Bangkok). Beberapa keluarga muslim bahkan mampu menggalang  dana dan mendirikan masjid sebagai saran  ibadah, sebuah masjid yang didirikan pada tahun 1949 oleh warga  Indonesia dan komunitas muslim asli Thailand. Tanah wakaf masjid ini adalah milik Almarhum Hjai Saleh, seorang warga Indonesia yang bekerja di Bangkok.

Masjid Jawa adalah masjid lain yang juga didirikan oleh komunitas warga muslim Indonesia di Thailand. Sesuai dengan namanya, pendiri masjid ini adalah warga Indonesia suku Jawa yang bekerja di Thailand. Namun  demikian, anak cucu para pendiri masjid ini berbicara dalam bahasa Thai  dan Inggris saat menceritakan asal muasal berdirinya Masjid Jawa ini. Masjid Indonesia dan Masjid Jawa hanyalah sebagian  dari lima puluhan masjid lain yang tersebar di seluruh penjuru  Bangkok.

Perkembangan Islam di Benua Amerika

Islam di Kanada

Meski berada di negara Barat, pertumbuhan Islam di Kanada paling pesat dibandingkan dengan pertumbuhan agama lainnya. Bahkan dua kali lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan Yahudi dan Kristen Ortodoks. Dewasa ini jumlah umat Islam di Kanada sekitar 650.000 hingga 700.000 jiwa. Di Kanada, Islam merupakan yang paling pesat pertumbuhannya, kata tokoh Muslim Kanada Haroon Siddiqui dalam wawancara khusus dengan Pelita di Jakarta, akhir pekan lalu. Haroon yang kelahiran India menyebutkan jika di Jerman para pemeluk agama Islam berasal dari Turki dan di Perancis berasal dari Afrika Selatan, maka di Kanada umat Islam berasal dari berbagai negara. Selain pertumbuhannya paling pesat, hasil studi menunjukkan bahwa umat Islam di Kanada rata-rata pendidikannya juga lebih baik dibandingkan dengan warga lainnya. Karena itu tidak mengherankan jika di Parlemen Kanada, terdapat empat orang Muslim yang menjadi anggotanya. Kanada yang berpenduduk 33 juta jiwa juga terdapat banyak masjid dan musholla. Di Toronto saja terdapat 50 masjid dan 50 musholla. Hal itu menunjukkan bahwa komunitas Muslim Kanada memiliki jumlah yang tidak sedikit dan sangat berperan dalam kehidupan negara.  Mereka bebas menentukan tempat pendidikan, baik di sekolah umum maupun sekolah Islam. Tapi yang jelas, kata Haroon sekolah-sekolah Islam di Kanada harus mengikuti peraturan pemerintah dalam hal menentukan kurikulum. Tapi sekolah-sekolah  Islam di Kanada tidak memperoleh subsidi dari pemerintah, katanya. Suami dari Ny Yasmeen dan bapak dari Fahad dan Faisal itu mengungkapkan bahwa Muslim di Kanada berbeda dengan Muslim di Eropa, dimana banyak sentimen atas Muslim Eropa. Di Kanada, pemerintah sangat menjunjung tinggi agama, jelasnya. Kanada, kata Haroon Siddiqui secara Undang-Undang Dasar merupakan negara yang multikultural. Jadi tidak ada agama resmi.  Karena itu agama dan budaya diperlakukan sama. Agama-agama besar di dunia dapat ditemukan di Kanada. Di Toronto saja, murid-murid sekolah berbicara dalam 100 bahasa. Hal itu menunjukkan bahwa Kanada merupakan negara multikultural, ucapnya lagi. Ditanya mengenai kontribusi Muslim Kanada terhadap negara, Harron menyebutkan bahwa umat Islam memiliki kontribusi yang besar di berbagai bidang. Karena mereka merupakan warga negara yang taat hukum, disiplin, dan produktif. Selain itu mereka juga aktif di profesinya masing-masing, seperti dokter, insinyur, jurnalis, dan lain-lain. Haroon Siddiqui yang didampingi Fajar R Harisantoso dari Penerangan Kedubes Kanada di Jakarta; memaparkan adanya suatu perkembangan baru di Barat, yaitu negara tidak
mencampuri urusan agama. Dengan demikian, tanggungjawab masalah agama terletak pada individu masing-masing pemeluk agama, termasuk umat Islam di Kanada. Jadi, tambahnya, tanggungjawab masalah agama, termasuk agama Islam terletak di umat Islam itu sendiri yang taat terhadap agamanya atau bahkan tidak beragama sama sekali.
Tapi yang jelas, ucap Haroon bahwa Muslim di Kanada sangat patuh terhadap Rukun Islam, meski di Kanada terdapat banyak godaan haram. Itu tergantung dari individunya. Itu merupakan ujian dari Allah SWT, ujar penulis buku "Being Muslim" terbitan tahun lalu itu. Di dalam buku Being Muslim , tokoh Muslim Kanada yang juga banyak menulis di berbagai suratkabar besar di Kanada itu menulis tentang serangan teroris di AS tahun 2001 yang dikenal dengan peristiwa 9/11. Dalam buku setebal 160 halaman itu, Haroon menulis tentang serangan 9/11, baik untuk umat Islam maupun non-Islam di seluruh dunia. Dengan demikian diharapkan bahwa mereka tahu bahwa serangan itu dilakukan oleh teroris, yang secara obyektif tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam.
Karena seperti pemboman yang terjadi di London, serta kota-kota lainnya di dunia, termasuk Bali; yang menjadi korban di antaranya adalah umat Islam.
Sebagai tokoh yang dilahirkan dalam kalangan penghafal al-Qur'an, dalam bukunya Haroon Siddiqui juga menulis tentang Nabi Muhammad SAW, tentang al-Qur'an, tentang jihad dan teroris, masalah pembom bunuh diri, serta masalah lainnya.

Perkembangan Islam di Benua Eropa

Islam di Denmark

Di negara Denmark yang terletak di ujung utara Eropa, Islam memang bukan agama mayoritas. Sebab, negara yang berpenduduk sekitar 5 juta jiwa ini, Islam adalah agama kedua setelah Kristen Protestan. Kendati demikian, “nyala api” perkembangan Islam yang dibawa oleh para Imigran dari berbagai negara semakin berkobar seperti nyala lilin yang menerangi ruangan di tengah malam.

Kapan persisnya Islam masuk Denmark, tak ada satu kepastian jelas untuk dijadikan “rujukan”. Tapi perkembangan dan masuknya Islam ke Denmark, tidak bisa dilepaskan dari sejarah Denmark. Sebab, sekitar 1536 Denmark menetapkan UUD yang memberi kebebasan bagi warganya untuk memeluk agama yang mereka yakini. Dari kemunculan UU itu lalu berimbas terjadinya perpindahan penganut Katolik-Roma ke Protestan Lutheran. Lambat-laun perpindahan itu ternyata mencapai titik kulminasi dan bahkan tahun 1849, Protestan telah menjadi agama resmi di negara Denmark.

Sejarah selanjutnya mencatat, Denmark yang terletak di ujung Utara Eropa didatangi para tamu sebagai imigran. Sebenarnya, waktu itu tak cuma Denmark yang menjadi tempat datangnya para imigran karena di semua dataran Eropa, juga mendapatkan tamu yang sama.

Uniknya, lama-kelamaan jumlah kaum imigran itu kian banyak dan bersamaan itu agama-agama minoritas mulai tumbuh, seperti Islam, Katolik, Yahudi, Hindu dan Budha. Di antara agama kaum monoritas itu, Islam menduduki peringkat ke-2 setelah Katolik. Saat itu, diperkiraan jumlah pemeluk Islam 100 ribu jiwa, sementara Katolik sekitar 350 ribu.

Jika mau ditelisik lebih jauh, awal mula kedatangan kaum muslim ke Denmark terjadi pada 1967 hingga November 1970. Waktu itu pemerintah Denmark memang mengizinkan import tenaga kerja asing yang dibutuhkan sebagai pekerja kasar dan mayoritas berasal dari Turki, negara-negara eks-Yugoslavia, Maroko dan Pakistan. Jumlah dari imigran itu makin bertambah setelah anggota keluarga yang lain menyusul untuk berimigrasi.

Setelah melihat adanya gelombang imigran yang kian banyak, sekitar tahun 1970-an pemerintah Denmark mulai bersikap lain. Jika pada awal mulanya bersikap lunak, kemudian berubah menjadi keras. Rupanya, hal itu berdampak besar kepada kaum pekerja. Banyak pekerja asing pun harus menelan ludah, kehilangan pekerjaan.

Selain itu, dihembuskan sikap takut pada agama Islam. Apalagi fakta menunjukkan bahwa hampir semua kaum muslim di sana hidup miskin dan tidak punya mata pencaharian. Rupanya, hasutan itu berhasil. Akibatnya, warga setempat menganggap kaum muslim sebagai penyebab dari timbulnya huru-hara dan masalah sosial.

Selanjutnya, pada tahun 80-an gelombang kedua imigran muslim menjejakkan kaki ke Denmark. Imigran kedua itu sebagian besar berasal dari Palestina, Iran, Irak, Bosnia, Somalia serta Afganistan. Jadi, muslim Denmark berasal dari beragam etnis. Juga, berbeda dengan gelombang pertama yang dipicu untuk mencari kerja, gelombang kedua lebih disebabkan karena alasan mencari selamat dari kecamuk perang yang terjadi di negara-negara mereka.

Berdasarkan UU negara tahun 1536, sudah seharusnya negara menjamin kebebasan beragama dan menghormati pelaksanaan ibadah berdasarkan dengan keyakinan yang mereka anut. Tapi kenyataan di lapangan tak seperti yang tertulis di atas kertas. Jadi, sebagai agama resmi negara, Lutherian Evangelis memperoleh banyak kemudahan dibanding agama lain.

Perkembangan Islam di Benua Afika

Islam di Senegal

Sebagaimana telah disinggung, Senegal mempunyai penganut Islam terbesar yaitu 94% dari total penduduk. Bagi kebanyakan orang Indonesia, hal ini pasti dipandang aneh, padahal Islam telah berkembang di Senegal sejak abad XI, hampir sama dengan masuknya Islam di Indonesia, ketika War Jabi, Raja Tekrur masuk Islam . Pada abad XIII, kerajaan Tekrur menjadi bagian dari Imperium Mali.  Perkembangan Islam di Senegal mengalami perubahan pesat, ketika aliran Tarekat (sufi) mulai merasuk pada abad XVIII, yaitu dimulai dengan masuknya alirah Qadiriyah. Pada tahun 1820 (abad XIX), Al-Hajj Umat Tall membawa aliran Tijaniyah dan berhasil membentuk kekaisaran yang meliputi wilayah Senegal, Mali dan Guinea. Pada tahun 1887, Syaikh Ahmadou BAMBA mendirikan aliran Mauridiyah. Bila Sudan berpaham Sunni, maka perkembangan Islam di Senegal dimotori oleh aliran tarekat (sufi), yaitu Qadiriyah, Tijaniyah dan Mauridiyah.
Walaupun Islam dianut oleh sebagian besar bangsa Senegal, namun sebagaimana pula di Indonesia, Islam belum dapat diterapkan sebagai dasar negara. Ini terbukti, Pemerintah Senegal masih mengadopsi hukum sipil Perancis sebagai ‘legal system’nya.
Presiden Senegal saat ini adalah ABDOULAYE WADE (Senegalese Democratic Party/PDS), terpilih sejak tanggal 1 April 2000, menggantikan Abdou Diouf. Tantangan berat yang dihadapi oleh Abdoulaye Wade berasal dari para buruh, persaudaraan Islam, mahasiswa dan guru. Dan sebagai negara yang menganut paham demokrasi (multipartai), hal yang demikian dianggap sesuatu yang lumrah
Senegal pernah mengadakan konferederasi dengan negara tetangganya, GAMBIA ( Senegambia Trade Confederation), ketika Abdou DIOUF masih aktif sebagai Presiden (1980). Namun konfederasi ini mengalami kolaps pada tahun 1989. Bertepatan dengan itu, Senegal juga mengalami krisis berat ketika terjadi pemberontakan separatis Movement of Democratic Casamance Force (MDCF). Pemberontakan ini berakhir pada tahun 1993.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar